Cerita Sangek

Cerita Sex Desi Yang Bahenol

Keluarga ibuku di kampung terlalu miskin sampai mengurus keluarga mereka pun sulit sehingga keberatan menerimaku. Untunglah keluarga majikan ibuku cukup baik dengan mengangkatku sebagai anaknya, mereka sangat menyayangiku namun semenjak kelahiran anak perempuan mereka perlahan namun pasti perhatian dan kasih sayang mereka kepadaku mulai berkurang, nama anak perempuan mereka Desi, perhatian mereka yang berlebih kepada Desi membuat Desi tumbuh menjadi seorang gadis yang tinggi hati.
Jika ada masalah orang tuaku selalu memenangkan Desi dan menyalahkanku. Oleh karena Orang tua angkatku sibuk berbisnis mereka tidak memperhatikan perkembangan Desi yang semakin hari semakin buruk dan walaupun aku berusia lebih tua dibandingkan usia Desi tetapi Desi tidak memandang sebelah mata kepadaku. Hal ini terus berlanjut sampai Desi berusia 15 tahun dan aku berusia 18 tahunan, Desi duduk di kelas 3 SMP sedangkan aku duduk dikelas 3 SMU.

Desi kini tumbuh menjadi seorang gadis yang benar benar cantik dan bodynya benar benar membuat jantung-ku selalu berdetak dengan kencang. Sedangkan aku sendiri tidak ada bedanya dengan pembantu seperti kedua orang tua kandungku.

Hari itu benar benar cerah dan aku mendengar langkah Desi yang baru pulang sekolah , seperti biasanya Desi melepas sepatunya dengan sembarangan dan juga kaus kakinya dengan sembarangan dilemparkan entah kemana “Heh!!! Bambam beresin tuh , aku mau isitirahat dibelakang jangan berani ganggu!!!” Desi membentakku Aku dengan tenang membereskan sepatu dan kaus kaki Desi , semula jika Desi melakukan hal seperti itu aku selalu kesal namun kini aku tidak merasa kesal lagi kepada Desi, karena aku mengetahui rahasia Desi , bahkan Orang tua Desi tidak mengetahui rahasia ini.

Aku tahu bahwa sebentar lagi Desi akan mempertontonkan sesuatu yang bisa membuatku terhibur dengan perlakuannya yang memang benar benar kasar. Rahasia kecil Desi : gadis itu suka membaca majalah dewasa yang entah didapatkannya dari mana dan hal ini cuma aku saja yang tahu ! tapi ini cuma rahasia kecil masih ada rahasia yang lebih besar. Rahasia ini rahasia istimewa dengan pemeran utama wanitanya Desi , Desi lebih asik dan wah ketimbang pemain Film Blue.
Setelah selesai membereskan sepatu Desi aku cepat cepat menyelinap kebelakang, dan aku segera mengambil tempat biasa dibalik pohon besar yang ada dikebun belakang rumah itu.

Aku menanti dengan sabar dan aku melihat pemeran utama wanita sudah mulai kelihatan, Desi kulihat memeriksa keadaan sekeliling dan aku menggeser posisi-ku sehingga tidak kelihatan oleh Desi, setelah yakin aman kulihat Desi duduk dengan santai dibangku kebun sambil membuka sebuah majalah kesukaannya , sambil duduk Desi semakin mengangkangkan pahanya , hal ini tentu saja membuat mataku melotot melihat isi rok seragam Desi dan kini Wow Desi membuka kancing bajunya satu persatu sehingga mataku semakin terbuka lebar melihat tingkah laku Desi yang semakin membuatku terangsang , Desi mulai meremas remas buah dadanya sendiri , tiba tiba aku-pun berpikir mungkin hal ini yang membuat buah dada dan body Desi semakin menggiurkan.

Aksi Desi semakin meningkat ia menarik kain segitiganya dan gilanya tangan Desi mulai mengusap ngusap dengan lembut daerah kemaluannya dan aku mendengar Desi mendesah desah dengan hebat “Ahh…hhhhsshh!” Desi mengeliat geliat perlahan dan tubuh Desi tampak mengejang dengan kencang selanjutnya terkulai lemas, aku melihat sesuatu meleleh dari milik Desi. Aku bertanya – tanya kenapa Desi enggak menyuruhku untuk membersihkan cairan putih kental yang pasti terasa enak dimulut-ku, kalau aku disuruh Desi aku pasti bersedia membersihkan daerah vag|na Desi dengan lidahku sampai benar benar bersih.

Setelah selesai Desi dengan tenang bangkit dan merapikan pakaiannya, kemudian ia berlalu menuju kamarnya yang terletak dilantai dua. Rahasia Desi yang satu ini yang paling asik dan paling ku sukai, bisa dibilang aku adalah satu – satunya orang yang mengetahui peristiwa hebat yang sudah dilakukan oleh Desi. Terus terang semenjak aku sering mengintip Desi aku sering masturbasi dengan membayangkan sedang melakukan hal – hal yang mengasikkan bersama dengan Desi…duhhhh Desiy!!!!!!Pikiranku selalu ngeres jika mendengar nama itu disebut ! Ahhh.

Hari itu sepertinya hujan akan turun dengan lebat, untungnya aku sudah sampai dirumah terlebih dahulu, mata-ku memandang tidak tenang , bisa – bisa batal dehh pertunjukan hari ini, walaupun batal cuma sehari tapi aku merasa was – was. Hujan mulai turun disertai bunyi petir bersambutan , aku mendengar suara orang berlari – lari “Brengsekkk Bambam!!!” Aku mendengar Desi berteriak memanggil namaku “Ambilinn handuk cepetttttt….!!!!” Desi memerintahkan-ku mengambil air , aku menuruti keinginannya.

Desi tampak cemberut dan seperti biasanya melempar sepatunya dimana – mana “Huuuuhhh hujannn brengsekkkk…. Bambam cepeeett!!! Dasar” Desi dengan kasar merebut handuk yang kuambilkan. Aku melihat Desi tampak tidak tenang menunggu hujan berhenti dan ia sering menengok kebun dibelakang rumah , aku sudah tahu Desi pasti sudah enggak sabar untuk mengeluarkan sesuatu dari dalam isi rok SMPnya. Agak lama juga hujan baru berhenti dan aku melihat wajah Desi tampak senang melihat hujan sudah berhenti “Hehh bambang kamu jangan berani mengganggu-ku, aku mau istirahat dikebun belakang Ngertiiiii!!! Awass kalau kamu menggangu”Desi membentakku.

Aku melihat Desi berlalu kekamarnya dan dengan tergesa gesa aku segera mengambil posisi mengintai karena hujan lebat maka tanah ditempatku mengintai menjadi becek dan licin tentu saja hal ini membuatku semakin berhati – hati, tidak berapa lama aku melihat Desi , dengan santai ini duduk dibangku kebun dan mengeluarkan majalahnya, Aku melihat Desi mulai bergerak dengan erotis sambil meremas – remas buah dadanya sendiri.

Aku sudah tidak sabar ingin melihat yang lebih Syurrr!!!.. tapi entah kenapa kali ini Desi cuma meremas – remas buah dadanya dengan gerakan yang erotis, Aku menunggu cukup lama sambil ngos – ngosan melihat gerakan – gerakan Desi dan akhirnya setelah lama sekali aku menunggu….. Aku melihat Desi mulai membuka kancing bajunya satu persatu dan menyibakkan Rok Seragam SMPnya keatas… Glek aku menelan ludah menyaksikan Pemandangan yang selalu kutunggu – tunggu bila Desi pulang sekolah , Uhh…rupanya Desi sudah siap melakukan sesuatu, Wow…mataku sampai melotot melihat Desi mulai mengeNov – ngeNov bagian kemaluannya yang masih tertutup kain segitiga berwarna putih dengan lembut disertai erangan erangan yang benar benar membuatku terangsang berat , Desi semakin mengangkang dan tiba – tiba “Pleset… Blukkkk…” Aku terpeleset.
“Aaaawww!!” Desi menjerit karena kaget ia segera merapikan pakaiannya yang terbuka disana – sini. “Bambammmmmmm!!!! Brengsekkk daasarrr anak punguttt!!!”Desi memaki diriku yang tediam dan “Plakkkkk… Plakkkkkkkkk”Desi menamparku sehingga aku terjatuh ditanah yang berlumpur tidak puas sampai disitu Desi meludahi wajahku “Cuhhhhhhh… dasar monyet ngak tau diriii…” kemudian Desi dengan kesal berlalu meninggalkanku.

Perlahan – lahan aku bangkit berdiri dan berjalan menuju kamar mandi, pakaianku kotor oleh Lumpur ,dikamar mandi sambil melamun aku membasuh diriku sampai benar – benar bersih, aku memikirkan kata – kata Desi yang sangat menyakiti hatiku , amarahku membara sepanas lahar gunung berapi, selain itu entah kenapa kemaluanku semakin panjang dan tegang karena selalu mengingat pemandangan yang benar-benar menggairahkan.

Entah apa yang kupikirkan , aku keluar dari kamar mandi dalam keadaan telanjang bulat dan naik kelantai dua menuju kamar Desi. Aku melihat Desi sedang memejamkan matanya sambil bermalas – malasan diatas ranjang, pintu kamar Desi terbuka lebar , dengan perlahan aku mendekati kamar Desi dan dengan hati – hati aku menutup dan mengunci pintu kamar Desi “Klikkk”Suara kunci terdengar dengan cukup jelas, Desi terbangun karena mendengar kunci “Ahh…..” ia terkejut melihatku berdiri dengan telanjang bulat namun itu Cuma sesaat selanjutnya ia marah besar “Hehhh…. Bambamm kamu ngapainnn… keluarr!!!!!! Dasar kacung rendahan!” Desi menghampiriku dan hendak menamparku “Aduh…. Brengsekkkkkk!!!!”Desi meringis ketika aku menangkis tamparannya rupanya ia kesakitan.

Aku tersenyum menangkap tangan Desi yang berusaha menamparku lagi kemudian aku bertarung dengannya , Desi mencakar – cakar sampai tubuhku terluka dimana – mana terutama dibagian pundak dan dadaku namun akhirnya aku menang karena Desi kini berhasil kutaklukkan dan kuikat kedua tangannya pada pinggiran ranjang dengan seutas kain yang kusobek dari kelambu di kamar Desi.

“Bambam lepasinnnnn…kurang ajar Bambam” Desi meronta – ronta “Hehhhh dasar tuliii… denger ngakk!!!!”Desi meronta dengan sekuat tenaga namun aku dengan tenang berlutut dipinggiran ranjang dekat kaki Desi , mataku menjelajahi tubuh Desi tanganku terjulur mengeNov kaki Desi “Aduhhh Hehhhh dasar ngak tahu diri… jangan kurang ajar kamu…. Anak pungut!!!!”Desi menendang tanganku dengan kakinya. Biarpun ditendang hal itu tidak membuatku jera aku kembali berusaha menjamah kaki Desi sambil kini menyibakkan rok seragam.

Mataku melotot melihat kemuNovan paha Desi wahhh!…Desi berusaha menendang lagi kali ini aku menangkap pergelangan kaki kirinyanya, karena kaki kirinya tertangkap Desi menendanggkan kaki kanannya , tapi itu semuanya sia – sia aku dengan mudah menangkap kaki Kanan Desi. Kedua tanganku mengangkangkan Kaki Desi dan mulutku menciumi paha dan kaki Desi yang masih meronta – ronta dan berteriak teriak memaki diriku.

Wangi tubuh Desi semakin membuatku bernafsu, aku kini menerkam tubuh Desi sambil mebukai kancing baju seragamnya satu persatu “Awww!!”Desi menjerit ketika kutindih tubuhnya , Desi meronta – ronta dan berteriak teriak berusaha melakukan perlawanan , aku semakin kuat memeluk pinggang Desi yang ramping sambil membenamkan wajahku pada bagian tengah buah dadanya yang sudah terbuka , nafasku memburu , mengendus ngendus harumnya bagian buah dada Desi , mulutku mulai menciumi kesana kemari. Dengan kasar tanganku menarik kedua cup penutup dada Desi sehingga buah dadanya tersembul dengan bebas “Awww… kuranggg ajar bambammmmmmm.. kamuuuu hehhhh brengsekk Setann”Desi terus meronta – ronta. Mataku sampai berkunang kunang melihat buah dada Desi yang haNov , putih dan harum dihadapan wajahku, tanpa buang waktu aku langsung menyantap buah dada Desi bahkan sesekali aku menggigit dengan gemas buah dada Desi yang menjerit kesakitan “Aduhhhhh aww sakit aaakkhh!” Desi menjerit dan memakiku tapi aku tidak peduli aku terus melumat sambil sesekali menggigit puting susu Desi yang berwarna kemerahan, puting susu Desi sudah tegak dan juga bulatan dada Desi sudah semakin kencang tanda kalau Desi mulai terangsang namun Desi masih melakukan perlawanan.

Kepalaku semakin turun dan kini berada di hadapan kemaluan Desi yang masih terbungkus kain segitiga putih. Aku menghirup dalam dalam aroma kain itu yang terasa membangkitkan birahiku, lama sekali aku menghirup hirup wanginya daerah kemaluan Desi yang aromanya lembut , aku mulai bosan dan ingin melihat penghuni kain segitiga Desi dengan sejelas jelasnya maka kedua tanganku berusaha menyentakkan kain itu kebawah

“Ahhh…jangan! Bajingan kau!” Desi semakin kuat meronta ronta. Dalam hati aku kagum juga dengan tenaga Desi, untungnya aku mengikat kedua tangannya. Wow jantungku berdetak dengan kencang melihat permukaan kemaluan Desi yang masih botak (seharusnya Cewe SMP kelas tiga sudah ada bulu jembutnya tapi punya Desi belum tumbuh!!!!).

Aku menjilat bibir vag|na Desi , Desi berontak dan terus berontak, aku yang merasa terganggu kini mengikat kedua kaki Desi keatas , aku mengikat kedua kaki Desi pada tangan Desi sehingga kini ia benar – benar merupakan mangsa yang empuk, aku kembali mendekati bagian vag|na Desi tanganku mencengkram pinggulnya dan menjilati vag|na Desi dengan kasar.. sambil berkali – kali aku menghisap kuat – kuat lubang vag|na Desi semakin kuat aku menghisap semakin kuat Desi mengerang dan “Bammbam Brenggg sekkk…. Lepasiinnnnn… Arhhhhhhhh….”Tubuh Desi tiba tiba bergetar dengan kuat…. “Cret…… Crot….. Crott”Air kental itu keluar dan meleleh dari sela sela vag|na Desi , Desi terkulai lemas, tenaganya juga mulai banyak berkurang, keringat mengucur dengan deras dari tubuhnya.

Aku menjilati vag|na Desi sampai kering dan bersih, setelah itu aku menciumi pangkal paha Desi dan mengeNov ngeNov paha Desi yang terasa lembut dan mengasikkan. Dalam pikiran-ku mendadak terlintas sesuatu. Aku ingat waktu aku menonton Film Blue aku melihat pemain pria memasukkan pen|snya kedalam anus pemain wanita dan akupun berencana melakukan hal itu maka Aku mulai menggunakan telunjukku menekan – nekan anus Desi, Anus Desi mendadak berkerut ketika kusentuh dan hal ini membuatku tersenyum menyaksikan anus Desi yang berkali kali berkerut, aku semakin senang mempermainkan anus Desi dan kini aku menekan kuat kuat jari telunjukku pada tengah tengah anus Desi

“Aoww…. Aduh jangannnn sakit heggghhh”Desi mulai menangis terisak isak , aku terus menekan jari telunjukku kuat – kuat, kini jari telunjukku dengan pasti mulai masuk semakin dalam dan dalam dan Desi semakin terisak-isak. Aku mulai mengeluar masukkan jari telunjukku kedalam anus Desi kini aku memasukkan dua jariku mengocok ngocok anus Desi “Aduhhhh….duhhhhh Aouuuh”Desi meringis – ringis, Aku kini menggeser tubuhku dan mendekatkan kepala kemaluanku pada lubang anus Desi dengan paksa aku mendobrak lubang anus Desi “Bam jangannnn Aduhh aaggggghh…ampun!”

Desi mengerang sambil memejamkan matanya rapat – rapat ketika kepala kemaluanku membongkar liang Anus Desi, tapi Ehhhhhh… Desi jadi agak anehhh waktu aku tusuk semakin dalam dengan pen|sku, lidah Desi sedikit menjulur keluar.. dan wajah Desi menjadi semakin sensual. Aku benar-benar bernafsu, aku semakin lama semakin kuat mengeluar masukkan pen|sku kedalam anusnya, apalagi kini Desi enggak menangis lagi malah ia memandangiku dengan tatapan matanya yang sCintya dan juga lidahnya yang secara tidak sengaja menjadi terjulur – julur ketika kusodok sodok dengan kuat liang anusnya.

Tanganku meremas remas buah dadanya Desi sambil terus mengocok – ngocok dan tidak berapa lama “Unggghhhh…. Mmm.. Crottt…crott!” Desi terkapar kembali. Aku biarkan Desi beristirahat sebentar kemudian aku mencabut pen|sku dari dalam anusnya kini aku mengarahkannya pada liang vag|na Desi “Ahhh… jangannn Bam …jangan…ampun… ngakkkk mau” Desi kembali menangis dengan tiba tiba. “Udah coba aja dulu… pasti kamu suka koq”Aku menjawab dengan santai sambil menggesek gesekkan kepala kemaluanku pada lubang vag|na Desi.

Aku mulai menekan dengan kuat namun kepala kemaluanku malah terpeleset karena daerah vag|na Desi terlalu licin tapi aku tidak putus asa aku terus menekan – nekan, setelah mencoba sebanyak 5 kali akhirnya kepala kemaluanku mulai dapat menyelam kedalam jepitan bibir vag|na Desi “Bambam jangan… ahhh jangannn enggakk!!!!!!”Desi benar – benar ketakutan dan ia menjerit jerit.

 

Jeritan Desi malah membuatku semakin mendorongkan pen|sku sampai terasa ada sesuatu didalam vag|na Desi yang menahal lajunya kepala kemaluanku. Hmmmmm…. Aku yakin inilah dinding pusaka milik Desi yang cuma ada satu satunya didunia dan enggak bisa digantikan atau diperbaiki, aku mengambil ancang – ancang dan “Jrebbb… Jrebb”sekuat tenaga aku menghentak-hentakkankan pen|sku berusaha menjebol dinding pusaka itu dan berhasil! Sementara Desi menangis dengan kencang sampai terisak – isak Aku tetap memompa pen|sku sambil menciumi Desi. Uhhhh…nikmatnya…dan aku semakin kencang memompa – mompa liang vag|na Desi, lama kelamaan tangisan Desi berubah menjadi erangan dan kemudian menjadi desahan desahan dan rintihan. Mata Desi yang masih basah memandangiku yang masih terus memompanya dengan kuat sehingga tubuh Desi tersentak – sentak diatas ranjang, Desi memandangiku dengan tatapan matanya sCintya dan kurasakan sinar mata Desi menjadi lembut.

Aku balas memandanginya mata Desi yang terpejam pejam ketika kusentak-sentakkan pen|sku dengan kuat dan “Serrrrrr…. Crot.. Achhh” Desi menggelepar dalam terkaman nafsu birahiku. Aku menarik keluar pen|sku dari dalam vag|na Desi, Aku melihat ada cairan meleleh keluar ketika aku mencabut pen|sku dan itu adalah cairan kenikmatan Desi yang tercampur dengan merahnya darah keperawanan Desi. pen|sku tampak masih segar bugar dan terasa tegang maka aku kali ini kembali menusukkan kepala pen|sku pada liang anus Desi, basahnya pen|sku oleh air mani Desi yang licin mempermudah kepala pen|sku untuk kembali menyelinap pada liang anus Desi “Unggghh…” Desi mengeluh ketika kusentakkan kepala pen|sku , aku semakin menekan pen|sku kedalam dan mengunjungi kembali lubang anus Desi.

Air Mani Desi yang menempel pada pen|sku seakan akan menjadi pelumas sehingga aku merasakan pergesekan antara lubang anus Desi yang sempit terasa semakin mengasikkan dan akupun semakin cepat memacu pen|sku maju mundur menggesek liang anus Desi.
“Hhhh… nnnhhhhh… ngggghh”Suara Desi benar benar mengasikkan untuk didengar ketika aku memompa – mompa semakin kuat dan cepat, aku mencengkram pinggul Desi dan terus mempercepat kocokanku, mataku melihat buah dada Desi bergerak dalam irama yang mengasikkan apalagi tubuh Desi kini berkeringat sehingga air keringat membuat kulitnya yang putih dan muNov bagaikan mengkilap , benar – benar pemadangan yang sedap dipandang oleh mata.

Lama kelamaan aku merasakan ada sesuatu yang mendesak ingin keluar tapi aku tetap bertahan aku tidak rela jika hanya keluar sendirian maka sambil terus menyentak – nyentakkan pen|sku menyodomi Desi aku menggosok – gosok klitoris Desi dengan agak kuat. “Ouch… Nggggg… Mhhhhh”Desi tidak dapat menahan seranganku.

“Sert…cret…crot……”tidak berapa lama aku juga memuntahkan sesuatu yang terasa sangat enak dan nikmatnya dari dalam pen|sku didalam anus Desi. Aku memeluk kuat kuat tubuh Desi yang masih terengah – engah karena kecapaian. Benar – benar luar biasa kenikmatan yang bisa kunikmati dari tubuh Desi, perlahan – lahan nafas kami berdua berubah menjadi tenang, dengan santai aku mencabut pen|sku dari dalam liang anus Desi.

Aku tersenyum melihat Desi yang memandangiku dengan tatapan matanya yang tampak kecapaian, aku bangkit dari atas tubuh Desi dan keluar dari dalam kamar Desi, dari dalam kulkas aku mengambil sebotol air dingin dan dengan lahap aku meneguk air dingin yang menyegarkan, setelah beristirahat sebentar aku kembali kekamar Desi, aku melihat Desi yang mengeliat – geliat pertamanya sihhh aku curiga Desi hendak melepaskan diri namun Desi hanya mengeliatkan tubuhnya.

Hmm…mungkinkah Desi merasa pegal karena kuikat? he he hehehe…. Aku mendekati Desi kembali lalu aku menyodorkan botol minuman kedekat mulutnya dan Desi meminum habis tanpa sisa setetespun. Aku kini membaringkan tubuhku disisi Desi tanganku bergerak melepaskan ikatan pada kaki Desi dan Desi mengeliat – geliatkan tubuhnya , aku membantu memijat mijat bagian pinggul Desi yang pasti terasa sangat pegal, terutama pinggul bagian belakang, mataku melirik vag|na Desi, rupanya Desi baru menyadari kalau sedari tadi ia mengangkang sehingga mataku dapat menikmati keindahan vag|na Desi yang mengasikkan makanya ia langsung merapatkan kedua paha serapat mungkin dan berusaha menggeser posisi pinggul seakan – akan hendak menyembunyikan wilayah terpenting pada tubuhnya.

Aku merasakan pen|sku kembali tegang kini tanganku meraba – raba ketiak Desi dan mulai mendekatkan mulutku pada ketiak Desi yang terbuka lebar karena kedua tangan Desi kuikat keatas, aku menjilati ketiak Desi sampai Desi mengeluh dan merintih – rintih kegelian aku berusaha untuk membangkitkan gairah Desi , Duhhhh ketiak Desi harum dan terasa lembut dilidahku, akupun tidak segan – segan lagi menghisap – hisap ketiak Desi dengan agak kasar, sambil menghisap – hisap, tanganku mulai membelai – belai buah dada Desi, kuremas buah dada Desi dengan lembut , Desi semakin sering merintih – rintih, Aku melihat Desi terpejam – pejam dan mulutnya setengah terbuka sehingga menambah cantik wajahnya aku mulai menggeluti tubuh Desi tanganku melingkar memeluk pinggang Desi dan yang satu lagi memeluk punggung Desi.

Aku mendekatkan wajahku pada wajah Desi dan langsung mencium bibirnya yang agak terbuka, aku mengisap dengan lembut namun semakin lama hisapanku semakin kuat dan membara “Hmm…Mmmhh”suara mulut Desi tersumpal mulutku yang sedang asik menghisap dan mengait – ngait lidah Desi, Desi agak meronta dan nafasnya semakin memburu rupanya Desi mulai kehabisan nafas tapi aku malah semakin kuat memeluk tubuh Desi dan semakin kuat menghisap mulutnya aku ingin menghisap dan membersihkan mulut Desi yang sering dipakai untuk memakiku. Lama juga aku bertarung mulut dengan Desi aku akhirnya melepaskan mulutku dari mulut Desi,

“Ahh…Hhh…hhhhhhh”Aku melihat Desi menarik nafasnya panjang – panjang , mata Desi memandangiku dengan tatapannya yang sCintya.Aku melepaskan tangannya sebelah kiri dan kemudian yang sebelah kanan, tubuh Desi mengeliat dalam pelukanku , aku memijat mijat bagian pundak Desi yang pasti terasa pegal, Aku merasa senang berhasil menjinakkan Desi yang semula begitu garang melakukan perlawanan, tangannya yang sering dipakai menampar wajahku kini terkulai lemah tanpa tenaga , mulutnya yang sering memakiku kini merintih rintih dan terasa sangat merdu ditelingaku.Aku mulai mempermainkan buah dada Desi yang terasa semakin mengeras dan semakin kenyal, jari tanganku juga semakin sering menarik – narik perlahan puting susu Desi kemudian kulanjutkan aksiku meremas – remas buah dada Desi dengan telapak tanganku berada dibagian bawah buah dadanya yang lembut.

Tanganku kemudian meraba bagian kemaluan Desi dan ternyata Desi sudah basah, aku lalu menggeser posisiku. Aku berlutut diatas ranjang, kedua tanganku menarik kedua kaki Desi dalam posisi mengangkang dan menaruhnya dipundakku sebelah kiri dan sebelah kanan, aku mengeser posisiku sehingga kini kepala kemaluanku berada dihadapan bibir vag|na Desi, aku menggesek – gesekkan kepala pen|sku sampai terasa geli karena licinnya bibir vag|na Desi, aku menekan memasukkan kepala pen|sku dan bibir vag|na Desi tanpa banyak komentar langsung menelan kepala pen|sku , aku memegangi kedua kaki Desi dan menghentakkan pen|sku kuat kuat “Ahhhhhhhhhhhhhh…. “Desi menjerit kecil ketika aku menyentakkan pen|sku kedalam vag|nanya selanjutnya aku memacu pen|sku dengan cepat dan kuat.

“Engggggg… Unghhhh Ahh!”tangan Desi menahan perutku dan aku berhenti sambil memandanginya , selanjutnya aku kembali menghajar vag|na Desi habis – habisan sampai Desi menjerit – jerit kecil menahan seranganku yang semakin hebat , tangan Desi menggapai – gapai mencari pegangan dan meraih guling sambil memeluk guling itu kuat – kuat, aku terus melakukan serangan serangan dan melesatkan pen|sku dengan kuat – kuat memanah lubang vag|na Desi yang semakin lama semakin terasa mengasikkan untuk dipanah dan “Crottt…. Crrttt….. crrtttt”aku melihat Mata Desi terpejam rapat disertai tubuhnya yang menggelepar merasakan rasa nikmat, aku membiarkan Desi menikmati rasa nikmat itu sampai tuntas, kemudian aku menurunkan kedua kaki Desi , tanganku menarik guling yang sedang dipeluk oleh Desi dan melemparkan guling itu kelantai selanjutnya aku menjatuhkan tubuhku dan memeluk punggung Desi dan menghentak – hentakkan pen|sku, kaki Desi yang biasanya dipakai untuk menendang tulang keringku kini menjepit tubuhku yang semakin kuat menghentak – hentakkan, kedua tangannya yang tadinya dipakai memeluk guling kini dipakainya untuk memelukku , agak lama aku merasakan pelukan Desi semakin kuat dan kedua kakinya semakin kencang menjepit tubuhku , aku mendengar dengar suara – suara yang merdu keluar dari mulutnya “Engghhh Owwhhh crottttttt…. Crrt”Aku merasakan pelukan Desi yang semula kencang kini melemah, aku terus menghentak – hentak dengan kuat karena aku merasakan sesuatu akan keluar dari pen|sku dan “Crrt.. Croottt”kini gantian aku yang memeluk kuat – kuat tubuh Desi, nafasku tersengal-sengal bergabung dengan nafas Desi yang juga memburu dengan kencang dan kuat bagaikan sedang habis berlari.

Hari itu aku tertidur sambil menindih tubuh Desi dan rasanya sangat menyenangkan, keesokan harinya aku bangun lebih dahulu dari Desi yang memang pemalas, Aduhhh!!!!! Begitu turun dari ranjang rasanya kedua kakiku lemas, dengkulku terasa akan lepas dari sendirnya, tiba- tiba aku teringat hari ini hari Rabu , biasanya orang tua angkatku pulang, aku langsung bangkit dan memakaikan pakaian tidur untuk Desi yang masih tertidur, setelah beres kini giliranku yang pakai baju….namun aku mendengar suara mobil dari kejauhan dan itu suara mobil orang tua angkatku!!! aku panik dan berlari menuju kamarku dalam keadaan telanjang bulat.

Hari Rabu itu Desi mendadak demam , aku dimarahi karena tidak menjaga Desi dengan baik, aku disuruh menunggu rumah sedangkan orang tua angkatku mengantar Desi ke dokter. Desi diberi izin untuk beristirahat dirumah oleh dokter sedangkan orang tua angkatku dengan penuh perhatian merawat Desi sampai demam Desi sembuh selama tiga hari. Pada hari yang keempat kondisi Desi berangsur membaik tapi ia masih harus istirahat, kedua orang tua angkatku harus segera pergi lagi menyelesaikan urusan bisnisnya dan kembali mempercayakan anak gadisnya padaku.

Dengan girang aku memasuki ke kamar tidurnya, kubuka perlahan-lahan pintu itu. Desi masih tertidur, aku berdiri di pinggir ranjang mengguncang tubuhnya. Ia membuka-matanya perlahan-lahan lalu matanya membelakak kaget, wajahnya ketakutan sambil menggeleng-geleng kepalanya melihat diriku yang berdiri di sampingnya sambil menyeringai jahat.
“Tidakkkk!!!” jeritnya.

Berita Terkini :