BERITA LUCU,UNIK & INSPIRASI

5 Film kehidupan kampung di Indonesia ini raih nominasi internasional

Kehidupan wilayah terpencil di Tanah Air juga menjadi inspirasi tersendiri 
bagi sineas-sineas Indonesia.

Duniabola99.com  – Beberapa tahun belakangan, industri perfilman Indonesia semakin bergeliat. Terbukti, makin banyak film yang menawarkan tema dan cerita dari sudut pandang beragam.

Film Indonesia kini tak melulu mengambil setting drama kehidupan masyarakat modern. Film yang bercerita tentang kehidupan kampung atau wilayah terpencil di Tanah Air juga menjadi inspirasi tersendiri bagi sineas-sineas Indonesia dalam membuat karya apik. Bahkan karya-karya mereka yang mengangkat kehidupan kampung tersebut berhasil mencuri perhatian penikmat film dari dalam maupun luar negeri.

Ya, sederet film Indonesia telah melanglang buana di festival-festival film internasional, misalnya saja festival film di Singapura, Prancis, Tokyo, Busan, Locarno, Venesia dan Toronto. Lebih berbangga lagi, ternyata tak sedikit film Indonesia yang berhasil menorehkan prestasi di kancah internasional dan mendapatkan sederet penghargaan dari ajang perfilman bergengsi dunia tersebut. Prestasi yang patut diacungi jempol.

Baca Juga : Dosen Terlalu Banyak Jadwal, Mahasiswa Pun Menjadi Korban Dari Kebimbangan Dosen

Penasaran kan film tentang kehidupan kampung di Indonesia seperti apa sih yang berhasil mencuri perhatian dunia? Nah, berikut brilio.net rangkum dari berbagai sumber, Sabtu (30/12), beberapa film yang bercerita tentang masyarakat kampung di Indonesia yang berhasil meraih sederet prestasi di kancah internasional.

1. Turah.

Film ini mengambil latar sebuah kampung nelayan di pesisir utara Kota Tegal, Jawa Tengah. Film ini merupakan karya sineas muda Wicaksono Wisnu Legowo dan menjadi perwakilan Indonesia di ajang Oscar 2018.

Dalam film Turah, Wisnu menjelaskan fakta soal kesenjangan sosial di pelosok Tanah Air dengan rapi dan apik.

Film ini mengangkat kehidupan warga di Kampung Tirang, sebuah kampung yang berdiri di tanah timbul pesisir pantai Kota Tegal, yang miskin dan tertinggal. Meski jaraknya cukup dekat dengan pusat Kota Tegal, kampung ini bisa dibilang tak tersentuh listrik. Bahkan, warga kerap sekali kesulitan air bersih.

Ironi itu digambarkan Wisnu lewat rumah reot, pakaian lusuh, dan lingkungan yang kumuh, memperjelas kesenjangan di kampung tersebut.
Tahun 2016 lalu, film ini mendapatkan penghargaan di Geber Award, Netpac Award dalam Jogja-Netpac Asian Film Festival, serta Singapore International Film Festival.

2. Ziarah.

Film Ziarah karya sineas asal Yogyakarta, BW Purbanegara ini memang menarik perhatian penikmat film. Bahkan berhasil menyeruak di event film internasional diikuti raihan penghargaan bergengsi.

Film ini mendapat dua penghargaan dari ASEAN International Film Festival and Awards (AIFFA) 2017, juga dipilih sebagai Film Terbaik dalam ajang Salamindanaw Film Festival 2016 di Filipina.

Kisah Ziarah ini sendiri berfokus tentang Mbah Sri yang harus melanglang buana, menyusuri bukit hingga pelosok desa demi menemukan makam suaminya, Prawiro Sahid yang diduga tewas pada Agresi Militer Belanda II pada tahun 1948. Dalam perjalanannya, ia bertemu dengan saksi-saksi sejarah masa lalu saat para pahlawan turut berperang melawan penjajah.

Ziarah merupakan salah satu film berjenis road movie, di mana film ini bertumpu pada sebuah perjalanan. Lewat film ini kamu juga akan diajak melihat kehidupan warga desa Gunungkidul yang jauh dari hiruk pikuk Kota Yogyakarta.

Uniknya, pemeran utama dalam film ini bukanlah seorang aktris yang sering nongol di layar televisi lho, melainkan seorang wanita petani berusia 95 tahun asli Gunungkidul. Aktris ini dipilih sendiri oleh BW untuk memerankan tokoh Mbah Sri.

3. Marlina si Pembunuh dalam Empat Babak.

Sebelum tayang di Indonesia, film karya Mouly Surya ini pernah berkunjung ke berbagai festival film Internasional, di antaranya Cannes, Selandia Baru, Toronto, Busan, Melbourne, dan Maroko.

Film Marlina Si Pembunuh Dalam Empat Babak ini juga mendapat penghargaan sebagai film dengan skenario terbaik pada Festival International du Film deFemmesde Sale (FIFFS) di Maroko edisi ke-11. Selain itu, film ini juga meraih penghargaan Asian NestWave dari The QCinema Festival di Filipina.

Tak ketinggalan, Marsha Timothy selaku pemeran utama juga mendapat penghargaan sebagai aktris terbaik dari Sitges International Fantastic Film Festival.

Film Marlina Si Pembunuh Dalam Empat Babak sukses mengangkat nuansa kehidupan di Sumba, Nusa Tenggara Timur. Daerah setting film ini terpencil, asing dari kehidupan modern.

Film yang dirilis pada pertengahan November lalu ini sangat kental dengan adat dan tradisi daerah. Seperti mayat yang ditutupi kain tenun dan tidak harus dikubur dalam waktu dekat. Alur tersebut didukung dengan alat musik dan lagu Lahape Jodoh yang memantapkan suasana Sumba.

4. Siti.

Siti adalah film independen Indonesia yang disutradai oleh Eddie Cahyono. Film drama ini mengisahkan kisah Siti, seorang perempuan penjual peyek jingking (makanan ringan) di Parangtritis, Bantul, Yogyakarta. Ia terpaksa menjadi pemandu karaoke di malam hari, setelah suaminya lumpuh dalam kecelakaan yang menenggelamkan kapal nelayannya sekaligus menjebak Siti dalam lilitan utang.

Selain ceritanya, keunikan yang ditawarkan dari film ini adalah seluruh adegannya berwarna hitam putih.

Siti telah memenangkan beberapa penghargaan di luar negeri dan di dalam negeri, salah satunya dalam ajang 19th Toronto Reel Asian International Film Festival 2015 serta meraih penghargaan di Shanghai International Film Festival.

Baca Juga : Pamer Lagi Hamil 7 bulan, Cewek ini Langsung Dibully Netizen! Penyebabnya Ada di Fotonya Ini

5. Laskar Pelangi.

Tak cuma di Indonesia, film Laskar Pelangi juga mendapat sambutan luar biasa di kancah Internasional. Terbukti, film yang mengadopsi cerita dari novel karya Andrea Hirata ini ditayangkan di beberapa negara lain seperti Spanyol, Italia, Hongkong, Jerman, Amerika Serikat, Australia, Portugal, serta beberapa negara lainnya.

Film ini menceritakan tentang mimpi 10 anak di desa terpencil di Pulau Belitung, sebuah pulau kecil di lepas pantai timur pulau Sumatra dalam menempuh pendidikan.

Film yang dirilis pada September 2008 ini berusaha memperlihatkan kondisi sosial daerah Belitong pada era 70-an seperti kekontrasan nasib sekolah miskin dan sekolah ‘mewah’ milik perusahaan pertambangan.

Siapa sangka, film Laskar Pelangi berhasil meraih penghargaan dari The Golden Butterfly Award dalam kategori film terbaik di International Festival of Film for Children dan Young Adults di Hamedan, Iran. Penghargaan lainnya yang telah disabet oleh Laskar Pelangi di ajang penghargaan bergengsi yaitu dari Berlin International Film Festival tahun 2009 dan Asian Film 2009 di Hongkong.

Nggak heran, Laskar Pelangi kemudian disebut-sebut sebagai film yang menginspirasi banyak pihak. Tak hanya soal diri sendiri, film ini juga memperlihatkan bagaimana persahabatan bisa mengubah nasib.

Nah, Sobat Brilio, film-film di atas membuktikan bahwa kehidupan warga kampung yang jauh dari gegap gempita kehidupan modern tak kalah menarik untuk difilmkan. Film-film ini juga bisa menginspirasimu untuk berpikir lebih jauh apa arti kehidupan yang sesungguhnya dan membagikannya dalam bentuk karya.

Berita Menarik Lainnya :

15 Film top Bollywood yang dirilis tahun 2018, Padmavati salah satunya

5 Film horor yang tayang tahun 2018 ini bakal bikin kamu ketakutan

 

 

 

Berita Terkini :